Gejala dan Cara Mengobati Hepatitis B

Cara mengobati hepatitis bergantung pada kondisi penderita sekaligus pada tingkat keparahannya. Hepatitis B merupakan infeksi hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV) dan dapat menular. Apabila tidak diobati dengan segera, hepatitis B dapat berkembang menjadi sirosis (kanker hati) dan memicu kegagalan fungsi organ hati.

Gejala Hepatitis B

Gejala penyakit hepatitis tidak mudah untuk dikenali karena infeksi HBV berkembang selama 1 – 5 bulan. Sehingga diagnosa dini kadang sulit dilakukan dan gejalanya juga tidak disadari oleh penderita karena sifatnya yang umum:

  1. Nafsu makan hilang

  2. Mual kadang disertai dengan muntah sebagaimana gejala penyakit maag

  3. Nyeri di perut bagian bawah

  4. Urin berwarna kuning pekat

  5. Mudah lelah, nyeri pada sendi, dan sakit kepala seperti halnya gejala awal terserang flu dan demam

  6. Kulit dan bagian putih mata yang mulai menguning sehingga sering juga disebut Sakit Kuning

Untuk dapat menentukan diagnosa dengan tepat, beberapa pemeriksaan darah di laboratorium diperlukan seperti tes antigen dan antibodi untuk virus HVB serta untuk melihat kerja fungsi hati. Apabila ditemukan peningkatan enzim, maka kemungkinan adanya tekanan atau gangguan pada fungsi hati sehingga diperlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Pengobatan Hepatitis B

Penyakit hepatitis B dapat dikategorikan menjadi:

  1. Hepatitis akut

Infeksi hepatitis akut biasanya berlangsung selama beberapa bulan dan seiring dengan meningkatnya sistem kekebalan tubuh, maka virus dapat hilang dengan sendirinya. Selain menjaga pola makan dengan gizi berimbang untuk peningkatan imunitas, obat yang sering diberikan oleh dokter biasanya berupa obat pereda sakit serta obat anti – mual.

  1. Hepatitis kronis

Infeksi hepatitis kronis berlangsung lebih dari enam bulan dan bahkan bisa tahunan. Virus HBV pada penderita hepatitis kronis tidak bisa sepenuhnya dihilangkan, fungsi utama obat yang diberikan adalah untuk menekan perkembangan virus. Sehingga pengobatan kadang harus dilakukan dalam jangka panjang hingga seumur hidup.

Sebelum dilakukan pengobatan, serangkaian pemeriksaan termasuk tes darah dan USG serta FibroScan akan dilakukan untuk mengukur jaringan luka serta pengerasan jaringan hati. Obat – obatan yang diberikan akan bergantung pada hasil dari pemeriksaan tersebut:

  1. Antivirus untuk menangkal virus yang berkembang. Beberapa contohnya adalah epivir, adofovir, dan entecavir. Beberapa efek samping yang timbul adalah pusing, muntah, dan nyeri di tubuh.

  2. Intron A atau interferon alfa-2b yang diberikan dalam bentuk suntikan. Obat ini biasa diberikan apabila hati penderita masih dapat berfungsi dengan baik. Efek samping yang mungkin timbul dari pemakaian obat ini adalah sesak nafas dan depresi.

  3. Transplantasi hati apabila telah terjadi kerusakan yang sangat parah sehingga hati gagal menjalankan fungsinya sebagai organ penetralisir racun dalam tubuh sekaligus pengatur komposisi darah. Transplantasi hati tidak dapat langsung dilakukan dan harus menunggu hingga donor tersedia.

Pemerintah telah mewajibkan pemberian vaksin hepatitis ketika imunisasi pada bayi untuk mencegah penularan hepatitis B. Selain itu, vaksin ini juga dapat diberikan kepada orang dewasa. Apabila dokter telah mendiagnosa adanya infeksi hepatitis, maka sebaiknya segera melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Selain menjaga pola makan dengan teratur, menghindari pola hidup dengan pergaulan bebas akan sangat membantu dalam mencegah penyebaran infeksi HBV. Terlebih virus hepatitis dapat menular melalui seks bebas serta pemakaian jarum suntik secara sembarangan. Karena obat Hepatitis B yang benar – benar efektif secara medis belum sepenuhnya tersedia, sebaiknya sebisa mungkin jauhi penyebab infeksi HBV.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *